Transisi Energi Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan, Pemerintah Perkuat Industri dan Transportasi Rendah Emisi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

INOVASINEWS.NET – Indonesia memiliki komitmen mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 dengan tetap menjaga ekonomi nasional tetap bertumbuh. Sejalan dengan target pertumbuhan yang tinggi, Pemerintah terus mendorong transisi energi yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Pertumbuhan ekonomi di Semester satu itu sudah 5,45 persen. Indonesia dibandingkan negara ASEAN atau di negara G20 termasuk top three di atas. Dan kita bisa mencapai pertumbuhan tinggi dengan inflasi yang rendah,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam wawancara bersama jurnalis senior Desi Anwar untuk acara The Big Idea Forum (TBIF) – Indonesia Zero Emission Heavy-duty Vehicle Summit 2026 dengan topik Powering Growth: Transforming the Transportation Sector, di Jakarta, Rabu (26/08).
Ketahanan energi menjadi salah satu fondasi untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah dinamika global. Menko Airlangga menyampaikan bahwa Pemerintah terus melakukan diversifikasi sumber energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, antara lain melalui peningkatan pemanfaatan energi domestik dan penerapan Biodiesel 50 (B50). Kebijakan tersebut turut membantu menjaga stabilitas harga energi dan menahan tekanan terhadap inflasi.
Di sisi lain, investasi dan industrialisasi terus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data BKPM, investasi pada Semester I 2026 tumbuh sekitar 7,2 persen, terutama pada sektor manufaktur dan rantai pasoknya. Pertumbuhan kebutuhan listrik dan gas serta perkembangan sektor digital, termasuk data center, juga menunjukkan bahwa aktivitas investasi terus bergerak. Pemerintah turut mendorong pengembangan energi terbarukan dan peningkatan kapasitas produksi panel surya dalam negeri untuk mendukung kebutuhan energi hijau industri.
Dalam sektor transportasi, Pemerintah mendorong penggunaan berbagai teknologi dan sumber energi rendah emisi sesuai dengan karakteristik moda dan kebutuhan operasional. Pemanfaatan B50 terus diperluas, sementara pengembangan kendaraan listrik, bahan bakar nabati, hingga teknologi hidrogen menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi sektor transportasi.
Pada sektor industri kendaraan penumpang, kendaraan hybrid menjadi salah satu teknologi dalam proses transisi menuju kendaraan listrik berbasis baterai. Menko Airlangga menyebut pertumbuhan kendaraan berbasis hybrid pada Semester I 2026 mencapai sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan industri otomotif nasional.
“Dengan harga BBM nonsubsidi ikut fluktuasi harga, maka masyarakat juga melihat bahwa penggunaan electric vehicle (EV) itu akan menghemat biaya. Maka di Semester satu ini peningkatan pertumbuhan daripada kendaraan yang berbasis pada hybrid itu 40 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi ini sebuah angka yang sangat baik, berarti masyarakat sudah ada kesadaran untuk menggunakan tenaga listrik,” ungkap Menko Airlangga.
Sejalan dengan transformasi tersebut, Pemerintah terus memperkuat ekosistem industri otomotif melalui pengembangan kemampuan produksi kendaraan, baterai, dan komponen di dalam negeri. Penyesuaian fasilitas dukungan diarahkan untuk memperkuat ekosistem Mobil Nasional dan Motor Listrik Nasional sekaligus meningkatkan kandungan dan nilai tambah domestik. Sektor industri sendiri berkontribusi sekitar 18–19 persen terhadap perekonomian nasional, dengan otomotif menjadi salah satu sektor yang memiliki efek berganda (multiplier effect) yang cukup besar.
Pemerintah juga terus menjaga iklim investasi dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Satuan tugas debottlenecking disiapkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi investor. Berdasarkan survei JETRO, sekitar 70 persen pelaku usaha yang disurvei melihat kemungkinan memperoleh keuntungan dari kegiatan bisnis di Indonesia. Pemerintah akan terus memastikan transformasi energi dan transportasi berjalan seiring dengan agenda pertumbuhan ekonomi dan penguatan industri nasional, sekaligus mempertahankan komitmen terhadap Paris Agreement dan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan bahwa transformasi transportasi rendah emisi perlu berjalan bersama penguatan energi domestik, investasi, infrastruktur, serta industri dan rantai pasok nasional.
“Transformasi transportasi rendah emisi bukan hanya mengenai perubahan teknologi kendaraan, tetapi juga bagaimana kita membangun ekosistem yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Dengan dukungan energi, infrastruktur, industri, dan rantai pasok yang semakin kuat, transisi ini dapat sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan memperkuat daya saing Indonesia,” imbuh Jubir Haryo.
- Penulis: Redaksi
