Berita Terbaru
Beranda » Nasional » Buku “Istiqlal untuk Dunia” Diluncurkan, Paparkan Praktik Baik Pengelolaan Masjid

Buku “Istiqlal untuk Dunia” Diluncurkan, Paparkan Praktik Baik Pengelolaan Masjid

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • print Cetak
Buku “Istiqlal untuk Dunia”

INOVASINEWS.NET – Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini merilis buku Istiqlal untuk Dunia: Manifesto Perdamaian dari Indonesia. Buku ini merekam jejak praktik baik pengelolaan masjid. Selain rumah ibadah, masjid berperan sebagai pusat dialog lintas agama, persaudaraan kemanusiaan, dan perdamaian global.

Buku karya Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Muhammad Aras Prabowo. 

Hadir, Plt. Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Joneri Alimin, Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam, dan Koordinator Divisi Umum dan Akademik Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) Karim Bakri, serta dihadiri jajaran pengurus Badan Pengelola Masjid Istiqlal.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Masjid Istiqlal telah bertransformasi menjadi The Big House for Humanity atau rumah besar kemanusiaan yang melampaui fungsi ibadah ritual semata. Istiqlal hadir sebagai ruang terbuka yang memfasilitasi dialog kemanusiaan lintas iman tanpa membedakan latar belakang agama maupun etnik.

“Kita menggagas bagaimana masjid ke depan bukan saja tempat sujud, tetapi juga tempat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan dan kemanusiaan,” ujar Menag.

Sejalan dengan gagasan dalam buku tersebut, Menag memaparkan tindak lanjut konkret Deklarasi Istiqlal di kancah internasional, khususnya dua agenda utama yang dibahas dalam forum lintas agama di Vatikan, yakni penguatan diplomasi keagamaan (religious diplomacy) dan gerakan pelestarian lingkungan (ekoteologi). Dalam aspek diplomasi, pendekatan hati nurani dan nilai spiritual (spiritual diplomacy) dihadirkan untuk melengkapi jalur diplomasi formal guna meredam ketegangan global, merujuk pada ajaran Al-Qur’an bahwa menyelamatkan satu nyawa manusia setara dengan menyelamatkan seluruh umat manusia.

Jejaring perdamaian global tersebut turut diperkuat melalui penyelenggaraan International Conference for Grand Imam yang diikuti delegasi dari 49 negara serta pembentukan asosiasi imam besar dunia (International Grand Imam Association). Peran dalam merawat harmoni lintas iman ini juga ditopang oleh kehadiran Terowongan Silaturahim (Friendship Tunnel).

Selain diplomasi kemanusiaan, Menag juga menyoroti pentingnya dakwah ekoteologi oleh umat beragama dalam merespons krisis iklim (climate change) yang berdampak besar bagi keselamatan manusia. Komitmen pengelolaan rumah ibadah yang ramah lingkungan tersebut telah diwujudkan Masjid Istiqlal melalui diraihnya sertifikasi bangunan hijau Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC) di bawah naungan Bank Dunia.

Melalui penerbitan buku ini, Menag berharap praktik pemberdayaan umat dan diplomasi perdamaian yang digagas dari Masjid Istiqlal dapat menjadi salah satu rujukan bagi pengelolaan masjid di berbagai tempat.

  • Penulis: Redaksi
expand_less