Berita Terbaru
Beranda » Nasional » Meninggalkan Hiruk Pikuk Jakarta, Generasi Muda Membawa Semangat Pengabdian ke Tanah Papua

Meninggalkan Hiruk Pikuk Jakarta, Generasi Muda Membawa Semangat Pengabdian ke Tanah Papua

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • print Cetak
Dok. Kementerian Transmigrasi

INOVASINEWS.NET – Bagi sebagian orang, Jakarta adalah tempat mengejar pendidikan, membangun karier, dan meraih berbagai peluang. Namun, bagi Nabilah Khansa Islam Arsyi dan Debora Angelica Pardede, jalan yang mereka pilih justru membawa mereka meninggalkan hiruk pikuk ibu kota menuju kawasan transmigrasi di Tanah Papua.

Keduanya merupakan bagian dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, program Kementerian Transmigrasi yang melibatkan generasi muda dari berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia untuk belajar bersama masyarakat, memetakan potensi wilayah, serta menyusun rekomendasi yang dapat mendukung pengembangan kawasan transmigrasi.

Bagi Nabilah, mahasiswa Universitas Brawijaya asal Jakarta Selatan, mengikuti Tim Ekspedisi Patriot bukan sekadar kesempatan untuk mengabdi, tetapi juga ruang belajar yang tidak dapat diperoleh di dalam kelas. Ia akan bertugas di kawasan transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

“Bagi saya, TEP adalah kesempatan untuk belajar langsung bersama masyarakat di Klamono–Segun yang memiliki potensi besar untuk berkembang. Saya ingin hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai pribadi yang siap mendengar, berkolaborasi, dan berkontribusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Nabilah.

Keinginannya mengikuti TEP berawal dari dorongan untuk melihat secara langsung bagaimana masyarakat di kawasan transmigrasi membangun kehidupan, menghadapi tantangan, sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki. Menurutnya, pengalaman di ruang kuliah maupun kegiatan lapangan belum cukup untuk memahami dinamika tersebut.

Nabilah menyadari kehidupan di kawasan transmigrasi akan berbeda dengan kesehariannya di Jakarta. Namun, perbedaan itu justru menjadi bagian dari proses belajar yang ingin ia jalani. Baginya, keputusan mengikuti TEP berarti juga kesiapan menghadapi berbagai tantangan selama penugasan.

“Kalau nantinya menghadapi kesulitan atau merasa lelah, saya akan kembali mengingat tujuan awal mengikuti program ini. Saya percaya komunikasi yang baik dan saling mendukung dalam tim menjadi kunci untuk menghadapi berbagai tantangan di lapangan,” katanya.

Ia tidak memasang target yang muluk. Nabilah berharap kehadirannya dapat membantu masyarakat mengidentifikasi potensi yang dimiliki, mendukung kegiatan yang telah berjalan, atau menyusun data yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan.

Semangat yang sama juga dimiliki Debora Angelica Pardede, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) asal Jakarta Timur yang akan bertugas di Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.

Bagi Debora, mengikuti Tim Ekspedisi Patriot merupakan kesempatan untuk kembali terlibat dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Pengalaman sebelumnya membuatnya semakin yakin bahwa memahami potensi suatu daerah tidak cukup dilakukan dari balik meja, tetapi harus melalui kehadiran dan pendampingan secara langsung bersama masyarakat.

“Saya ingin menjadi bagian dari generasi muda yang berani melangkah ke daerah yang masih membutuhkan perhatian, menggali potensi yang dimiliki, dan meninggalkan manfaat bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

Pada penugasan nanti, Debora bersama timnya akan melakukan pendampingan di bidang ekonomi kreatif sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, mulai dari kondisi sarana dan prasarana, rantai pasok, hingga peluang pengembangan potensi lokal.

“Kami tidak hanya melakukan pendampingan, tetapi juga ingin mengidentifikasi berbagai hambatan di lapangan, mulai dari kondisi sarana dan prasarana, rantai pasok, hingga aspek pemeliharaannya. Harapannya, hasil yang kami susun dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan kawasan transmigrasi,” jelas Debora.

Menurut Debora, hasil kerja Tim Ekspedisi Patriot tidak berhenti pada laporan akhir. Berbagai temuan lapangan, pemetaan sosial, hingga rekomendasi yang disusun diharapkan dapat menjadi dasar bagi penyusunan program pembangunan kawasan transmigrasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Di tengah banyaknya pilihan yang tersedia di ibu kota, Nabilah dan Debora justru memilih melangkah ke arah yang berbeda. Mereka ingin mengenal Indonesia lebih dekat melalui kehidupan masyarakat di kawasan transmigrasi. Bagi keduanya, pengabdian bukan sekadar tentang datang ke daerah yang jauh, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, mendengar, belajar, dan tumbuh bersama masyarakat.

Melalui Tim Ekspedisi Patriot 2026, keduanya tidak hanya membawa bekal ilmu dari bangku kuliah, tetapi juga semangat untuk menghadirkan gagasan yang lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Dari Tanah Papua, mereka berharap dapat membawa pulang pembelajaran, perspektif baru, serta rekomendasi yang dapat mendukung pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Dari sanalah, langkah yang berawal dari meninggalkan hiruk pikuk Jakarta diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar membangun Indonesia, dimulai dari kawasan-kawasan transmigrasi.

  • Penulis: Redaksi
expand_less