Tiga Inovasi Digital Indonesia Raih Pengakuan Dunia WSIS Prizes 2026 PBB
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
- print Cetak

INOVASINEWS.NET – Tiga inovasi digital Indonesia yang memperluas akses pendidikan, meningkatkan keamanan siber, dan membantu masyarakat melawan hoaks berhasil meraih pengakuan dalam ajang The World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026 dari International Tele communication Union (ITU), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai capaian tersebut menunjukkan transformasi digital Indonesia semakin mampu menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kualitas inovasi Indonesia yang masuk dalam nominasi WSIS tahun ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemanfaatan teknologi digital untuk layanan publik.
“Saya melihat yang jadi nomine dan pemenang di WSIS tahun ini bobotnya makin kuat sejak tiga tahun terakhir,” ujar Wamen Nezar Patria saat menerima audiensi nomine WSIS Prizes 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (10/06/2026).
Dalam ajang WSIS Prizes 2026, Indonesia berhasil menempatkan 3 inisiatif terbaik di antara 90 WSIS Champions 2026 dari seluruh dunia.
Ketiga inisiatif tersebut adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jala hoaks) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, serta Rumah Pendidikan dan Anugerah Bug Bounty dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).
Wamen Nezar menilai berbagai inovasi yang dikembangkan Kemdikdasmen maupun Pemprov DKI Jakarta memiliki manfaat nyata bagi masyarakat serta mampu mendorong transformasi digital di sektor publik.
Menurutnya, keberhasilan tersebut dapat menjadi contoh bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah lainnya untuk menghadirkan layanan publik yang lebih dekat, mudah diakses, dan responsif melalui platform digital.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) yang dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi.
Wamen Nezar menegaskan perkembangan teknologi ke cerdasan artifisial generatif membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari informasi yang autentik.
“Hoaks makin lama makin canggih, terlebih dengan adanya generative AI. Bisa dibuat hoaks yang sangat mirip dengan sesuatu yang otentik,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai kehadiran platform verifikasi informasi seperti Jalahoaks menjadi instrumen penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap informasi palsu. Selain itu, Wamen Nezar juga mengapresiasi program Anugerah Bug Bounty yang dinilai berkontribusi memperkuat budaya keamanan siber nasional.
Program tersebut dinilai mampu melibatkan para white hacker untuk mengidentifikasi kerentanan sistem sekaligus mendorong pemanfaatan kemampuan digital secara positif dan produktif.
Wamen Nezar berharap keberhasilan tiga inovasi Indonesia menembus ajang WSIS Prizes 2026 menjadi penyemangat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus menghadirkan inovasi digital yang berdampak luas bagi masyarakat.
“Kita bisa buktikan transformasi digital, adopsi teknologi yang advanced, sudah dilakukan di berbagai sektor di Indonesia,” tandasnya.
Ia berharap para pemenang atau pihak yang mewakili bisa hadir langsung dalam acara penyerahan penghargaan WSIS Prizes 2026 di Jenewa, Swiss pada minggu pertama Juli 2026.
Dalam ajang WSIS Prizes 2026, terdapat 1.596 inovasi digital dari 122 negara yang berpartisipasi. Sebanyak 2,2 juta orang telah memberikan suara untuk memilih inovasi digital yang terbaik dari seluruh peserta. Hasil voting ini diperiksa kembali oleh para pakar dari WSIS sehingga terpilih 90 champion dengan 3 champion berasal dari Indonesia. (SP/RI)
- Penulis: Redaksi
