Jakarta, 15 April 2026 – Di sudut Cimanggis, Depok, kisahMardiana bukan sekadar tentang berjualan beras. Ini adalah ceritatentang bagaimana pengetahuan bisa mengubah arah hidup, tentangseorang perempuan yang tak hanya bekerja keras, tetapi juga terusbelajar hingga menemukan cara baru untuk berkembang. Langkah awalnya sangatlah sederhana. Berangkat dari dapurrumah, ia menjalankan usaha beras merah seperti kebanyakanpengsaha ultra mikro lainnya. Namun titik balik itu datang bukanhanya dari tambahan modal, melainkan dari ruang-ruang belajaryang ia temui bersama PNM Mekaar. Bagi Mardiana, setiap pelatihan bukan sekadar formalitas. Dari pelatihan digital marketing, pemasaran, hingga pengelolaan media sosial, ia seperti menemukan cahaya baru untuk membuka peluangyang sebelumnya tak terpikirkan. Ide demi ide mulai bermunculan, dari cara memasarkan produk, memperluas jaringan, hinggamengolah beras merah menjadi produk siap saji yang lebihbernilai. “Dari pelatihan, saya jadi tahu ternyata jualan itu bukan cuma soalbarang, tapi cara kita menawarkan dan mengemasnya,” kira-kiraitulah semangat yang ia jalani. Bekal itulah yang membuat langkahnya berbeda. Ia tak lagisekadar menunggu pembeli, tetapi aktif menjemput pasar. Ia hadirdi berbagai bazar, dari lingkungan sekitar, kegiatan kecamatan dankelurahan, hingga merambah kampus-kampus di Depok danJakarta. Setiap kesempatan ia jadikan ruang uji coba untukmengasah strategi yang ia pelajari, sekaligus membaca kebutuhanpasar. Dari sana, lahir inovasi sederhana namun berdampak besar. BerasMerah Sosoh “Cak Har” diolah menjadi nasi liwet beras merahlengkap dengan lauk. Produk ini bukan hanya menjawabkebutuhan praktis, tetapi juga menciptakan pengalaman baru bagikonsumen. Keputusan kecil yang lahir dari pelatihan itu justrumenjadi pintu besar. Kini, Mardiana dipercaya sebagai penanggung jawab kantin di Kantor Kecamatan Cimanggis. Peran ini bukan hanya tentangdirinya, tetapi juga tentang bagaimana ia ikut membantumemasarkan produk pejuang usaha lainnya. Ia tumbuh, sekaligusmengajak yang lain untuk naik bersama. Nasi liwet buatannya kini menjadi favorit para pekerja di lingkungan kecamatan. Bahkan rutin hadir dalam berbagai kegiatanbulanan. Dari satu dapur sederhana, ia kini melayani pelangganharian hingga bulanan, dengan sistem antar yang membuathubungan dengan pelanggan terasa lebih dekat dan personal. Semua itu tak lepas dari kombinasi antara pengetahuan danpermodalan. Dari pinjaman awal Rp2 juta, kini berkembangmenjadi Rp7 juta. Namun bagi Mardiana, nilai terbesar bukan padaangkanya, melainkan pada kepercayaan dan wawasan yang iadapatkan untuk terus berkembang. Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskanbahwa pelatihan menjadi bagian penting dalam mendorongkemandirian nasabah. “Nasabah PNM Mekaar memiliki potensi yang luar biasa, kapasitas usaha mereka perlu ditingkatkan melalui pelatihan danpendampingan. Dari sana, nasabah bisa menemukan ide-ide baru, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperluas pasar. Inilahyang kami dorong agar mereka benar-benar naik kelas,” ujarnya. Ia menambahkan, ketika perempuan diberikan akses pengetahuan, dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi meluas ke keluargahingga lingkungan sekitar. Dalam setiap langkahnya, Mardiana seperti menghidupkan kembalisemangat Kartini. Bbukan sekadar tentang emansipasi, tetapitentang keberanian untuk belajar dan beradaptasi. Ia membuktikanbahwa kemandirian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dari kemauan untuk terus berkembang. Di Cimanggis, dari pelatihan sederhana hingga dapur yang terusmengepul, lahir seorang perempuan yang tidak hanya berjualan, tetapi juga berpikir, berinovasi, dan menginspirasi. Kartini masa kini, yang menemukan jalannya melalui keberanian untukmencoba.