Presiden Donald Trump Ingin Rusia dan China Bergabung Dewan Perdamaian
- account_circle Redaksi
- calendar_month 16 jam yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan “senang” jika Rusia dan China bergabung dalam Dewan Perdamaian yang dibentuknya untuk memandu stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pascaperang Israel-Hamas.
Berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengatakan bahwa banyak negara telah menerima undangan untuk bergabung, sementara sejumlah lainnya masih dalam proses.
“Saya ingin China dan Rusia bergabung. Mereka telah diundang. Anda membutuhkan keduanya. Anda membutuhkan semua pengaruh. Tidak ada diskriminasi,” ujar Trump.
China dan Rusia Beri Respons Berbeda
Rusia sebelumnya mengonfirmasi telah menerima undangan dan sedang mempelajari proposal tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan disebut mengusulkan kontribusi sebesar USD 1 miliar—yang bersumber dari aset kedaulatan Rusia yang dibekukan di AS—sebagai bentuk komitmen awal, meskipun keputusan keanggotaan final belum diambil.
Sementara itu, China menolak gagasan tersebut dengan alasan tetap berpegang pada mekanisme dan otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejumlah negara Barat juga menyuarakan kekhawatiran bahwa pembentukan dewan baru dapat melemahkan peran PBB dalam proses perdamaian Timur Tengah.
Dibentuk di Davos, Dikritik Sejumlah Negara
Dewan Perdamaian itu secara resmi diumumkan di sela-sela pertemuan World Economic Forum di Davos pada Januari lalu. Trump disebut akan menjabat sebagai ketua dewan tersebut seumur hidup.
Badan ini bertugas mengawasi:
- Rekonstruksi Gaza
- Implementasi gencatan senjata
- Koordinasi dukungan internasional
Sekitar 40 negara menghadiri pertemuan perdana dewan di Washington. Lebih dari 20 negara telah menerima undangan secara resmi, sementara sekitar 35 negara lainnya menyatakan minat.
Namun, beberapa negara Eropa utama—termasuk Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia—menolak untuk bergabung.
Kritik: Tanpa Representasi Palestina
Dewan tersebut juga menuai kritik karena tidak mencantumkan perwakilan Palestina dalam struktur awalnya, meskipun Israel disebut telah menerima undangan untuk bergabung.
Sejumlah pengamat menilai keberadaan Rusia dalam struktur dewan dapat menimbulkan dinamika geopolitik baru, sementara yang lain menilai inisiatif ini berpotensi menciptakan jalur diplomasi alternatif di luar kerangka PBB.
Langkah Trump ini menandai pendekatan baru Washington dalam menangani konflik Gaza—dengan membentuk arsitektur diplomasi tersendiri yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.
- Penulis: Redaksi



