Akselerasi Transisi Energi: PLN UID Jabar Bumikan Energi Bersih
- account_circle Abdillah
- calendar_month Kam, 4 Des 2025

Menghadirkan energi bersih terus dilakukan meski tantangan yang dihadapi tidak ringan. Sebagai fasilitator dan akselerator dalam ekosistem transisi energi di tingkat regional, PLN UID Jawa Barat mengimplementasikan kebijakan nasional dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
INOVASINEWS.NET – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat memainkan peran penting dalam transisi energi melalui Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan berfokus pada peningkatan bauran energi hijau, kolaborasi dengan pengembang EBT, dan penyediaan layanan pendukung bagi pelanggan.
Melalui kolaborasi multisektor, bauran EBT Jawa Barat sudah melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) 2025. Sugeng Widodo, General Manager PT PLN (Persero) UID Jawa Barat, mengatakan bahwa bauran energi terbarukan di Jabar telah mencapai sekitar 32% atau melampaui target yang ditentukan RUED, sebesar 20%.
Tantangan utama PLTS adalah menjaga stabilitas jaringan dan pasokan energi 24 jam, yang memerlukan solusi penyimpanan energi seperti baterai untuk menyimpan kelebihan listrik siang hari dan menggunakannya saat dibutuhkan.
“Secara nasional, realisasi bauran energi terbarukan Indonesia baru sekitar 16 persen, angka ini masih di bawah target nasional sebesar 23 persen pada 2025,” kata Sugeng Widodo Kepada Ruang Inovasi.
Pemanfaatan EBT terus digenjot seiring dengan target dekarbonisasi pemerintah Indonesia melalui realisasi EBT. Jawa Barat memiliki potensi besar energi terbarukan—sekitar 192 GW—seperti energi surya, air, dan angin. PLN UID Jawa Barat berperan dalam mengintegrasikan potensi sumber daya ini ke dalam jaringan listrik untuk memenuhi kebutuhan energi daerah.
Salah satu jenis EBT yang kian diminati adalah energi surya dengan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Secara umum, setiap PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi bertanggung jawab atas jaringan distribusi (tegangan menengah dan rendah) serta pengadaan listrik untuk wilayah distribusinya, termasuk pembelian excess power dari pembangkit EBT skala kecil, di bawah 10 Mega Watt (MW).

“Fokus PLN UID Jawa barat dalam EBT adalah membeli dan menyerap energi kapasitas di bawah 10 mW, khususnya PLTS dari proyek yang dikembangkan oleh pihak swasta, bukan kita yang membangunnya sendiri,” jelas Sugeng.
Sebagai pembeli tunggal (offtaker) energi listrik yang dihasilkan oleh proyekproyek swasta, PLN UID Jawa Barat memastikan energi dapat terserap ke dalam jaringan. Inovasi di PLN lebih berfokus pada mekanisme penyerapan dan integrasi energi ke jaringan, bukan pada teknologi pembangunan pembangkit itu sendiri.
Kendalanya, tegas Widodo, terkait sifat PLTS yang “intermittent”. PLTS hanya menghasilkan listrik ketika ada sinar matahari. Ketergantungan cuaca dan waktu membuat output energi akan menurun saat malam hari, cuaca mendung, atau hujan lebat. Seringkali, puncak produksi listrik di siang hari tidak sejalan dengan puncak permintaan listrik pada sore atau malam hari.
“Tantangan utama PLTS adalah menjaga stabilitas jaringan dan pasokan energi 24 jam, yang memerlukan solusi penyimpanan energi seperti baterai untuk menyimpan kelebihan listrik siang hari dan menggunakannya saat dibutuhkan,” jelasnya.
Selain itu, PLN UID Jawa Barat memfasilitasi pelanggan dengan layanan pendukung berupa Renewable Energy Certificate (REC) dan Dedicated Source–sebagai wujud komitmen mempercepat transisi energi nasional. Melalui dua layanan ini, pelanggan dapat menggunakan listrik ramah lingkungan tanpa perlu membangun pembangkit sendiri. (RI)
- Penulis: Abdillah



