PNM Mekaar: Modal Aman, Bebas Rentenir
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
- print Cetak

INOVASINEWS.NET – Praktik rentenir menjadi momok bagi ibu-ibu pedagang kecil pelaku usaha ultra mikro. Pencairan dana yang instan sering kali menutupi bahaya bunga selangit dan denda yang tidak masuk akal. Akibatnya, modal usaha justru habis untuk membayar utang dan memicu siklus kemiskinan.
Melalui PNM Mekaar, program yang diinisiasi PT Permodalan Nasional Madani atau PNM (Persero) melawan praktik rentenir melalui tiga pilar utama yang sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha kecil: akses modal tanpa agunan, pendampingan dan pelatihan, serta sistem kelompok (Pertemuan Kelompok Mingguan/PKM).
AKSES MODAL TANPA AGUNAN
PNM Mekaar memberikan pembiayaan tanpa memerlukan jaminan fisik. Hal ini membuka akses seluas-luasnya bagi perempuan dari keluarga prasejahtera untuk memulai atau mengembangkan usahanya secara legal dan aman.
PENDAMPINGAN DAN PELATIHAN
Nasabah tidak hanya diberikan modal finansial, tetapi juga modal intelektual. Petugas pendamping lapangan secara rutin mengajarkan literasi keuangan dasar, cara mengelola laba, hingga strategi pemasaran. Ini membuat usaha nasabah berkembang dan mandiri.
PERTEMUAN KELOMPOK MINGGUAN/ PKM
Sistem ini mewajibkan nasabah untuk membentuk kelompok dan melakukan pertemuan rutin mingguan. Selain untuk mengangsur, forum ini membangun solidaritas atau modal sosial. Ketika salah seorang anggota kesulitan, anggota lain akan saling mendukung. Ikatan ini mencegah nasabah kembali melirik rentenir saat membutuhkan dana darurat.
Perlahan namun pasti, kehadiran PNM Mekaar berhasil mengubah wajah ekonomi keluarga. Para ibu kini memiliki akses ke sistem perbankan yang sehat.
Iin Sutiyani, salah satu Nasabah PNM Mekaar, membawa cerita inspiratif dari Grand Final PFL 2026.
“Dulu, setiap hari rasanya seperti dikejar waktu. Bukan hanya memikirkan dagangan harus laku, tetapi juga tagihan pinjaman harian yang terus datang. Kondisi suami yang sakit serta usaha kecil yang menjadi tumpuan keluarga membuat tekanan itu membuat langkah saya terasa berat,” ungkap Iin.
“Setelah bergabung dengan PNM Mekaar, saya perlahan bisa mendapatkan akses modal yang lebih aman dan menata usaha dengan lebih tenang. Sekarang, bisa berjualan di Grand Final PFL 2026 menjadi kebanggaan tersendiri, karena saya merasa usaha kecil seperti kami juga punya kesempatan untuk tumbuh dan dihargai,” sambungnya.
Direktur Utama PT PNM (Persero), Kindaris, menegaskan bahwa pemberdayaan bukan sekadar memberi modal finansial, melainkan juga membuka akses bagi usaha kecil agar berani tumbuh lebih kuat.
“Bagi perempuan ultra mikro, modal bukan sekadar uang. Modal adalah kesempatan untuk bernapas lebih lega, berdiri lebih kuat, dan melanjutkan perjuangan dengan harapan baru. Ketika mereka diberi ruang untuk tumbuh, yang bergerak bukan hanya usahanya, tetapi juga keluarganya dan ekonomi di seki tarnya,” tutur Kindaris.
Melalui kehadiran 20 nasabah di Grand Final PFL 2026, PNM berharap semakin banyak pelaku usaha kecil yang mampu keluar dari tekanan, terbebas dari jeratan rentenir dan terus tumbuh bersama ekonomi akar rumput Indonesia. (RI)
- Penulis: Redaksi
