Masuki Masa Pancaroba, BPBD Jateng Siapkan Antisipasi Bencana
- account_circle Redaksi
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

INOVASINEWS.NET – SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi bencana pada masa pancaroba, yaitu periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Terlebih, musim kemarau ini dipengaruhi fenomena El Nino.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan, informasi dari BMKG, saat ini wilayah Jawa Tengah masih berada pada masa transisi musim, yang ditandai dengan cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang.
“Meski secara umum mulai masuk musim kemarau, kondisi saat ini masih pancaroba. Potensinya bisa hujan lebat atau angin kencang,” katanya ditemui di kantornya di Semarang, Rabu (15/4/2026).
Bergas menjelaskan, fenomena El Nino diperkirakan akan mendorong peningkatan intensitas kemarau, dengan puncak yang berpotensi terjadi pada 2026 atau 2027, mengacu pada pola kejadian sebelumnya seperti pada 2019 dan 2023.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, ujarnya, BPBD Jateng telah mengimbau pemerintah kabupaten/kota untuk menyiapkan sarana dan prasarana, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.
Upaya yang dilakukan antara lain, terang Bergas, pembangunan sumur dalam dan sistem penyediaan air minum (SPAM) oleh pemerintah daerah, serta penyiapan armada tangki air untuk distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
“Beberapa upaya sudah dilakukan pemerintah provinsi dengan menambah air sumur, begitu ya. Sumur dalam untuk tambahan-tambahan atau membangun SPAM, gitu, sudah dilakukan melalui program-program pemerintah provinsi tentunya,” bebernya.
Bergas menuturkan, pemprov menyiapkan sarana prasarana pendukung untuk menyuplai air bersih. Seperti alat transportasi, tangki, menyiapkan anggaran kabupaten/ kota, dengan melihat histori sebelumnya.
Berdasarkan data historis, sejumlah wilayah di Jawa Tengah yang kerap mengalami krisis air bersih di antaranya Kabupaten Klaten, Sragen, Grobogan, Blora, dan Rembang, termasuk beberapa daerah di kawasan pantai utara.
Selain pemerintah provinsi, ada juga dukungan pemerintah pusat, serta kolaborasi seperti dukungan CSR masyarakat, dan lainnya. Terkait hal itu, pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi untuk mengantisipasi musim kemarau.
Selain itu, BPBD juga mendorong masyarakat untuk mulai menyiapkan sarana penampungan air, sejak masih berlangsung musim hujan. Pemerintah, desa, hingga masyarakat, bisa membangun jaringan dan sarana prasarana untuk menabung air.
“Konsepnya menabung air. Masyarakat bisa memanfaatkan tandon atau wadah sederhana untuk menyimpan air, sebagai cadangan saat kemarau,” terangnya.
Sementara, warga bisa menyiapkan wadah ukuran 5.000 liter, untuk menyimpan air. Termasuk bisa menyimpan air dengan wadah lain, sehingga saat musim kemarau, air di wadah yang telah disiapkan akan bermanfaat.
“Wadah-wadahnya ini dapat dari mana? Bisa dibangun dengan terpal, bisa minta bantuan CSR dari potensi wilayah minta bantuan tandon-tandon 5.000 liter, 2.000 liter, satu wilayah satu, enggak usah harus bicara desalah, bicara RT, RW,” jelas Bergas.
Di sisi lain, BPBD mengingatkan potensi bencana lain selama musim kemarau, seperti kebakaran hutan dan lahan serta kebakaran permukiman.
Untuk itu, masyarakat diimbau menyiapkan peralatan sederhana, seperti alat pemadam api ringan maupun pompa air, serta menjaga lingkungan agar terhindar dari potensi kebakaran.
Bergas juga menekankan pentingnya upaya pencegahan di kawasan hutan, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, baik itu kebakaran permukiman, hingga kebakaran hutan.
Atau misalnya, kalau di hutan atau di gunung, para pendaki diperingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, membuang puntung rokok, dan lainnya. Para komunitas peduli gunung, peduli hutan dan masyarakat, mengantisipasi dari awal. Agar tidak terjadi kebakaran, seperti di Gunung Slamet dan hutan lainnya.
“Cerita tentang Pemalang-Purbalingga yang banjir bandang atau debris flow itu, tidak terlepas dari cerita Gunung Slamet yang pernah terbakar. Artinya di atas gundul, ada material pohon-pohon hutan yang jatuh atau sudah rusak akibat kebakaran di masa itu, yang turun ke bawah pada saat musim hujan,” imbaunya.
- Penulis: Redaksi
